Selasa, 27 September 2011

Bentuk -Bentuk Pemasaran Melalui Internet Dengan Produk Unik ( Internet Marketing )


Nusantara Product
Produk Berkualitas –Harga bersahabat

Tentang Nusantara Product
Nusantara Product adalah toko online yang menyediakan barang-barang unik ,  baik dari Indonesia maupun luar Indonesia. Sehingga Anda akan dimudahkan untuk membeli produk-produk tersebut, baik luar negeri maupun dalam negeri (produk lokal).
Nusantara Product berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik, penambahan produk-produk yang unik dan akan terus melakukan perbaikan-perbaikan demi memberikan pelayanan yang prima bagi Anda semua.
Oleh sebab itu, Nusantara Product dengan senang hati akan menerima kritik, saran bahkan komplain untuk dijadikan bahan instropeksi diri. Kritik, saran dan komplain silahkan kirimkan ke kontak yang telah disediakan.
Terima kasih.
Selamat Berbelanja
galang 300x225 Tentang Kami
Galang Swawinasis
(Owner Nusantara Product)

Berikut salah satu contoh gambar Nusantara Product :


Nama Produk
Sepatu Lukis 106
Ukuran
By Request
Ukuran minimal 30
Ukuran maksimal 44
Harga
Rp.160.000,00
Layanan lainnya
Lukisan sepatu bisa sesuai dengan foto yang tertera, atau bisa juga sesuai dengan gambar/design Anda sendiri



Cara berbelanja di Nusantara Product sebagai berikut :
Pemesanan via sms hanya  yang serius mau pesan, jika ingin sekedar tanya lebih baik di kontak kami
(email, yahoo messenger)
Berikut adalah cara berbelanja via sms :
1. Pilih barang yang Anda inginkan, jika telah mendapatkan barang yang ingin dipesan. Maka tulis pesan dengan format berikut
“Nama Pemesan – Nama barang / kode barang – Alamat lengkap – Info tambahan produk (ukuran sepatu, dll)”
Contoh :
“Sandy – Sepatu Lukis 106 – Jalan Proklamasi no 70 RT. 03 RW. 03 Kode pos 11122 – ukuran sepatu 43″
2. Lalu kirim ke 085 643 139 396
3. Pesan akan kami proses.
Keterangan :
Maaf jika dalam respon lambat karena akhir-akhir ini kesibukan cukup padat. Akan tetapi tenang saja, karena sms Anda akan kami respon.
Thanks
CS
Nusantara Product


Info :
Karena semakin berkembangnya Nusantara Product serta mulai banyaknya transaksi, Nusantara Product membuka kesempatan kepada Anda para produsen yang ingin memperluas pemasaran produknya. Syaratnya cukup mudah Anda tinggal kontak kami dan kami akan survey ke lokasi maka barang Anda sudah bisa dijual di Nusantara Product.
Tertarik dengan tawaran kerjasama kami? silahkan kontak kami melalui :
HP : 085 643 139 396 (sms only)
E-mail : galangswawinasis@gmail.com
Yahoomessenger : galangswawinasis
Lebih lengkap kunjungi alamat website : http://www.nusantaraproduct.com/sepatu-lukis-106
Sumber : Nusantara Product

Kamis, 22 September 2011

Analisis jurnal  (Metodelogi Riset Bisnis )


Analisis Jurnal ilmiah oleh : Nama : Wahyu Stevanus P , Npm : 30209804, Kelas : 3 DD01

1. Judul : PENINGKATAN MANAJEMEN SISTEM BUS DI JAKARTA
Pengarang: Veronika Widi Prabawasari
Tahun: 2004

2. Tema: PELAYANAN DAN TRANSPORTASI YANG TEPAT DAN MEMADAI.


3. Latar Belakang Masalah:
Kepuasan pelanggan adalah salah satu hal yang paling penting bagi suatu perusahaan salah satunya pada bidang pelayanan transportasi dan Peningkatan sistem transpotasi umum dengan meningkatkan manajemen sistem bis yang seharusnya sudah menjadi perhatian yang cukup serius dan masalah ini adalah menjadi tantangan bagi semua pihak termasuk pemerintah.


4.Masalah:
Pada umumnya,sistem bis telah menimbulkan masalah yang cukup serius dengan terjadinya kemacetan pada rute-rute utama akan mengurangi kemampuan pelayanan bis.
Kinerja buruk dari sistem angkutan umum ini khususnya bis,mengakibatkan angkutan ini menjadi kurang menarik sebagai salah satu moda transportasi kota.Tidak memadainya pelayanan bis ini,mengakibatkan meningkatnya ketergantungan akan mobil pribadi yang berdampak pada pemborosan konsumsi bbm, pengrusakan lingkungan dan masalah pemerataan social yang akan berpengaruh pada keseimbangan tatanan kehidupan.Peningkatan sistem transpotasi umum dengan meningkatkan manajemen sistem bis seharusnya sudah menjadi perhatian yang cukup serius para pengambil keputusan.masalah ini adalah menjadi tantangan bagi semua pihak termasuk pemerintah.


5. Tujuan Riset:
Untuk meningkatkan manajemen sistem bis yang memberikan pelayanan yang baik terhadap para pengguna transportasi bus dan untuk memberi kontribusi pada pembagunan kota yang berkelanjutan.


6. Teori & Penelitian:
Landasan Teori:
Model Konseptual Dari Pelayanan Kualitas (Servqual):kekuatan dari konsep ini, bukan hanya karna diformulasikan berdasarkan hasil riset, tetapi juga karena disertai dengan cara pengukuran yang dimengerti (Irawan, 2002).

Kepuasan Pelanggan:menurut Kotler (1997), kepuasan pelanggan adalah kepuasan atau kekecewaan yang dirasakan konsumen.


7. Metode Penelitian :
- Analisis dan Pembahasan
- Uji Validitas & Reabilitas


8. Kesimpulan:
Secara ringkas,kinerja sistem transportasi umum khususnya sistem bis di Jakarta adalah merupakan hasil dari manajemen yang buruk yang diakibatkan oleh berbagai factor,antara lain :
- penurunan kualitas bis yang meliputi kondisidan pelayanan akibat kemacetan lalu-lintas yang disebabkan tidak adanya prioritas terhadap sistem bis dan tidak efektifnya pembatasan terhadap pemakaian kendaraan pribadi di dalam kota.
- tidak adanya kebijaksanaan dan prosedur yang jelas bagi pemerintah daerah dalam menetapkan pelayanan bis baik dalam standar pelayanan akibat peraturan pemerintah yang tidak tegas

Minggu, 08 Mei 2011

PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP SIKAP KONSUMEN PADA GREEN PRODUCT COSMETICS

PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP SIKAP
KONSUMEN PADA GREEN PRODUCT COSMETICS
(Studi Kasus pada Puri Ayu Martha Tilaar Sun Plaza Medan)
Marhayanie* dan Eka Laniasti Sihite**
* Departemen Staf Pengajar FE USU
** Alumni FE USU
Abstract


The purpose of the research is to examine the influence of the product attributes which is consist of the
product brand, product quality, product design, product label and product packing to consumer’s attitude toward
Green Product Cosmetics, that is for product of Martha Tilaar’s cosmetic.
The result of research indicate that the product attributes which is consist of the brand variable, quality,
design, label and packing are together have significant effect toward consumer’s attitude. The result also
indicates that quality variable and packing variable have positive and significant effect on consumer’s attitude
for Green Product Cosmetics, that is for product of Martha Tilaar’s cosmetic, while brand variable and label
have positive but not significant effect, and design variable has negative but not significant effect towards
consumer attitude.
Keywords: the product attributes, the consumer’s attitude

1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan produk kosmetik memberi
peluang bisnis bagi para produsen kosmetik. Peluang
bisnis tersebut menciptakan keanekaragaman produk
kosmetik atau produk perawatan kulit yang kini
beredar di pasar, yaitu dari produk lokal sampai
produk impor, dan produk yang masuk secara legal
maupun illegal, sehingga konsumen dapat memilih
produk kosmetik yang terbaik bagi dirinya, dan
produk kosmetik tersebut dapat diperoleh dengan
mudah di pusat-pusat perbelanjaan dan khususnya di
klinik kecantikan.
Saat ini banyak produk kosmetik yang beredar
menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya yang
dapat mengganggu kesehatan para pengguna
kosmetik. Menurut Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM), bahan-bahan kimia yang
berbahaya tersebut antara lain Merkuri, Hidroquinon
lebih dari 2%, Asam retrinoat, Diethylene Glicol, zat
warna Rhodamin B dan Merah K3 serta
Chlorofluorocarbon.
Penggunaan bahan-bahan kosmetik yang
dilarang oleh BPOM tersebut dapat juga menimbulkan
masalah lingkungan. Masalah lingkungan tersebut
adalah masalah Pemanasan Global atau Global
Warming. Adanya isu lingkungan tersebut membentuk
sikap dan perilaku konsumen untuk memilih produk
yang alami, aman, dan ramah lingkungan. Oleh karena
itu perusahaan kosmetik perlu memperluas pasarnya
dengan menciptakan produk hijau kosmetik (Green
Product Cosmetics) (Johri dan Sahasakmontri, 1998:
265).
Martha Tilaar merupakan salah satu
perusahaan kosmetik yang menghasilkan produk
kosmetik bernuansa ketimuran dan mengandung
bahan alami. Produk kosmetik perusahaan Martha
Tilaar sudah dikenal sebagai salah satu produk hijau
kosmetik (Green Product Cosmetics) di dunia. Hal ini
terbukti dari hasil uji laboratorium di Paris yang
menyatakan bahwa bahan-bahan yang digunakan pada
produk Martha Tilaar bebas dari bahan-bahan kimia
berbahaya.
Konsumen dalam memilih produk terutama
produk kosmetik Martha Tilaar, mereka dapat melihat
atribut dari produk tersebut. Atribut produk yang
digunakan antara lain merek, kualitas, desain, label,
dan kemasan. Konsumen cenderung tertarik pada
produk yang memiliki merek yang terpercaya, kualitas
yang bagus, desain yang menarik, label yang dapat
menerangkan komposisi secara lengkap dari produk,
dan kemasan yang unik. Atribut produk tersebut dapat
mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen sebelum
membeli.

2. METODE PENELITIAN
2.1 Defenisi Operasional Variabel
Defenisi variabel-variabel yang diteliti adalah
sebagai berikut:
a. Variabel Bebas
Variabel Bebas yaitu atribut produk (X). Atribut
produk ini memiliki beberapa sub variabel, yaitu:
Merek Produk (X1), yaitu nama, istilah, tanda,
simbol atau desain, atau kombinasi di antaranya
agar mudah dikenali oleh konsumen.
Kualitas Produk (X2), yaitu kualitas kinerjakemampuan
produk untuk melaksanakan fungsi
yang diharapkan konsumen.
Desain Produk (X3), yaitu desain atau bentuk,
ukuran berat, warna, dan gaya yang menarik
perhatian konsumen sehingga produk selalu
diingat.
Label Produk (X4), yaitu mengidentifikasi produk
atau merek melalui keterangan-keterangan yang
tertera di produk tersebut.
Kemasan Produk (X5), yaitu pembungkus fisik
untuk melindungi produk dan sekaligus
menciptakan identitas unik kepada konsumen.
b. Variabel Terikat
Variabel Terikat yaitu Sikap Konsumen (Y).
Sikap konsumen yaitu menjelaskan motivasi,
perasaan emosional, proses kognitif terhadap
suatu objek oleh konsumen.
2.2 Skala Pengukuran Variabel
Pengukuran atribut produk terhadap sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics, melalui
skala likert digunakan dengan lima tingkatan yang
diberi skor sebagai berikut (Sekaran, 2006: 31):
a. Sangat setuju diberi skor lima
b. Setuju diberi skor empat
c. Ragu-ragu diberi skor tiga
d. Tidak setuju diberi skor dua
e. Sangat tidak setuju diberi skor satu


2.3 Populasi dan Sampel
a. Populasi
Berdasarkan pra-survei yang dilakukan
peneliti, diketahui bahwa jumlah para pengunjung
Puri Ayu Martha Tilaar sejak bulan Januari sampai
bulan Maret 2008 sebanyak 2812 orang, dengan ratarata
populasi dalam sebulan adalah 937,33 dan
dibulatkan menjadi 937 orang.
b. Sampel
Penetapan jumlah sampel dilakukan dengan
menggunakan rumus Slovin. Berdasarkan perhitungan
diperoleh sampel sebanyak 90,35 responden dan
dibulatkan menjadi 90 responden.
Pemilihan sampel dilakukan dengan
menggunakan metode purposive random sampling,
yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
karakter dan ciri-ciri yang ditentukan terlebih dahulu
untuk membatasi sampel (Sugiyono, 2004: 78).
Adapun karakter yang ditentukan adalah pengunjung
yang pernah dan sedang melakukan pembelian,
minimal telah 2 kali melakukan pembelian kosmetik
mulai dari januari 2008 sampai penelitian dilakukan,
dan telah berusia 17 tahun, sebagai pelanggan dewasa
yang dapat mengambil keputusan pembelian atau
paling tidak mempengaruhi keputusan pembelia

2.4 Metode Analisis Data
a. Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif merupakan metode
yang digunakan dengan mengadakan pengumpulan
data dan penganalisaaan data yang diperoleh sehingga
dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai
fakta-fakta dan sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diteliti.
b. Analisis Statistik
1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis Regresi Linier Berganda digunakan
untuk mengetahui pengaruh dari variabel
bebas (Merek produk, kualitas produk, desain
produk, label produk, dan kemasan produk)
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 1, Januari 2008: 10 - 17
12
terhadap variabel terikat (Sikap konsumen).
Dengan persamaan yang digunakan adalah:
Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+b4X4+b5X5+e
Keterangan:
Y = Sikap Konsumen
a = Konstanta
b1,b2,b3,b4,b5 = Koefisien Regresi Berganda
X1 = Variabel Merek Produk
X2 = Variabel Kualitas Produk
X3 = Variabel Desain Produk
X4 = Variabel Label Produk
X5 = Variabel Kemasan Produk
e = Standard Error
Sebelum data tersebut dianalisis, model
regresi berganda di atas harus memenuhi syarat
asumsi klasik, yaitu Uji Normalitas, Uji
Multikolonieritas, Uji Autokorelasi, Uji
Heteroskedastisitas. Model regresi yang sudah
memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan
digunakan untuk menganalisis, melalui pengujian
hipotesis sebagai berikut:
1. Pengujian Koefisien Determinan (R2) atau
Goodness of Fit Test
Digunakan untuk melihat besar pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat. Dari persamaan
dengan model persamaan tersebut akan dapat R2
atau Coefficient of Determination yang
menunjukkan persentase dari variasi variabel
keputusan pembelian yang mampu dijelaskan
oleh model.
Jika determinan (R2) semakin besar atau
mendekati sama, maka variabel bebas (X1, X2, X3,
X4, X5) terhadap variabel terikat (Y) semakin
kuat.
Jika determinan (R2) semakin kecil atau
mendekati satu, maka variabel terikat (Y) semakin
kecil.

2. Uji Serempak (Uji F)
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui
apakah terdapat secara bersama-sama variabel
bebas terhadap variabel terikat. Uji F dilakukan
secara serentak untuk membuktikan hipotesis
awal tentang pengaruh atribut produk melalui
variabel merek produk (X1), kualitas produk (X2),
desain produk (X3), label produk (X4), kemasan
produk (X5) sebagai variabel bebas, terhadap
sikap konsumen (Y) sebagai variabel terikat.
Pengambilan keputusannya dengan
membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel.
Bila Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel maka dapat
disimpulkan bahwa variabel bebas dalam model
mempengaruhi variabel terikat.
Model hipotesis yang digunakan adalah:
H0: b1 = b2 = b3 = b4 = b5=0 artinya variabel bebas
(X1, X2, X3, X4, X5) secara bersama-sama tidak
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat (Y).
H0: b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ b4 ≠ b5 artinya variabel bebas
(X1, X2, X3, X4, X5) secara bersama-sama
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat (Y).
Nilai Fhitung akan dibandingkan dengan nilai Ftabel.
Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:
H0 diterima bila Fhitung < Ftabel pada α = 5% H0 ditolak bila Fhitung > Ftabel pada α = 5%
3. Uji secara Parsial (Uji-t).
Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat secara
parsial. Variabel bebas dikatakan berpengaruh
terhadap variabel terikat bisa dilihat dari
probabilitas variabel bebas dibandingkan dengan
tingkat kesalahannya (α). Jika probabilitas
variabel bebas lebih besar dari tingkat
kesalahannya (α) maka variabel bebas tidak
berpengaruh, tetapi jika probabilitas variabel
bebas lebih kecil dari tingkat kesalahannya (α)
maka variabel bebas tersebut berpengaruh
terhadap variabel terikat.
Model pengujiannya adalah:
H0 = bi = 0, artinya variabel bebas secara parsial
tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat.
Ha: bi ≠ 0, artinya variabel bebas secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat.
Nilai Thitung akan dibandingkan dengan nilai Ttabel.
Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:
H0 diterima bila Thitung < Ttabel pada α = 5% H0 ditolak bila Thitung > Ttabel pada α = 5%
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian
hipotesis yang telah diuraikan sebelumnya, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat Pengaruh
Atribut Produk terhadap Sikap Konsumen pada Green
Product Cosmetics (Studi Kasus pada Puri Ayu
Martha Tilaar Sun Plaza Medan), dengan penjelasan
sebagai berikut:
1. Uji Signifikan Simultan (Uji F) membuktikan
bahwa atribut produk yang terdiri dari variabel
merek, kualitas, desain, label dan kemasan secara
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
sikap konsumen.
2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t) membuktikan bahwa
variabel kualitas (X2) dan variabel kemasan (X5)
berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics, yaitu
pada produk kosmetik Martha Tilaar, sedangkan
merek (X1), desain (X3) dan label (X4)
berpengaruh positif dan negatif namun tidak
signifikan terhadap sikap konsumen.
5. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
diperoleh dan keterbatasan yang ada dalam penelitian
ini, maka mengharuskan peneliti untuk memberikan
sarannya, dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel
yang berpengaruh paling dominan adalah
kemasan produk, maka bagi pihak perusahaan
Martha Tilaar diharapkan dapat mempertahankan
dan meningkatkan nilai kemasan produk
kosmetiknya, agar sikap konsumen tidak beralih
kepada produk yang lain. Sedangkan kualitas
berpengaruh secara signifikan setelah kemasan,
hal ini membuktikan bahwa kualitas produk
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 1, Januari 2008: 10 - 17
16
kosmetik Martha Tilaar harus ditingkatkan agar
konsumen semakin yakin terhadap kualitas
produk kosmetik tersebut sebagai Green Product
Cosmetics.
2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel
merek dan label berpengaruh secara positif,
sedangkan variabel desain berpengaruh negatif.
Perusahaan Martha Tilaar dalam hal ini, harus
dapat meningkatkan citra merek kosmetiknya,
agar merek semakin dikenal oleh konsumen, dan
label produk yang jelas sebaiknya dapat terus
ditingkatkan oleh pihak perusahaan agar
konsumen semakin percaya kepada produk
kosmetik Martha Tilaar. Variabel desain dalam
penelitian ini berpengaruh negatif, olehsebab itu
kepada perusahaan Martha Tilaar harus dapat
meningkatkan desain produk kosmetiknya agar
konsumen semakin tertarik dan menyukai produk
kosmetik tersebut.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti
mengenai sikap konsumen pada Green Product
Cosmetics, disarankan dapat menambah variabelvariabel
yang berbeda dengan variabel yang
sebelumnya untuk memperkaya pengetahuan
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics dan
melibatkan jumlah responden yang lebih besar
sehingga mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Pandu wiranegara :30208949
Adik Tri Kustanto : 34209443
Wahyu Stevanus P ( 30209804 )

Kamis, 05 Mei 2011

Strategi Promosi Penjualan : Definisi, Tujuan, dan Jenis Kegiatan Promosi Penjualan

Promosi pada hakekatnya adalah suatu komunikasi pemasaran, artinya aktifitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan, Tjiptono (2001 : 219).
Sementara Sistaningrum (2002 : 98) mengungkapkan arti promosi adalah suatu upaya atau kegiatan perusahaan dalam mempengaruhi ”konsumen aktual” maupun ”konsumen potensial” agar mereka mau melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan, saat ini atau dimasa yang akan datang. Konsumen aktual adalah konsumen yang langsung membeli produk yang ditawarkan pada saat atau sesaat setelah promosi produk tersebut dilancarkan perusahaan. Dan konsumen potensial adalah konsumen yang berminat melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan perusahaan dimasa yang akan datang.

Adapun tujuan dari pada perusahaan melakukan promosi menurut Tjiptono (2001 : 221) adalah menginformasikan (informing), mempengaruhi dan membujuk (persuading) serta mengingatkan (reminding) pelangggan tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Sistaningrum (2002 : 98) menjelaskan tujuan promosi adalah empat hal, yaitu memperkenalkan diri, membujuk, modifikasi dan membentuk tingkah laku serta mengingatkan kembali tentang produk dan perusahaan yang bersangkutan.
Pada prinsipnya antara keduanya adalah sama, yaitu sama-sama menjelaskan bila produk masih baru maka perlu memperkenalkan atau menginformasikan kepada konsumen bahwa saat ini ada produk baru yang tidak kalah dengan produk yang lama. Setelah konsumen mengetahui produk yang baru, diharapkan konsumen akan terpengaruh dan terbujuk sehingga beralih ke produk tersebut. Dan pada akhirnya, perusahaan hanya sekedar mengingatkan bahwa produk tersebut tetap bagus untuk dikonsumsi. Hal ini dilakukan karena banyaknya serangan yang datang dari para pesaing.
Dalam melakukan promosi agar dapat efektif perlu adanya bauran promosi, yaitu kombinasi yang optimal bagi berbagai jenis kegiatan atau pemilihan jenis kegiatan promosi yang paling efektif dalam meningkatkan penjualan. Ada empat jenis kegiatan promosi, antara lain : (Kotler, 2001:98-100)
1. Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non personal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
2. Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), yaitu bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
3. Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat ilmiah).
4. Promosi Penjualan (Sales promotion), yaitu suatu bentuk promosi diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
5. Pemasaran Langsung (Direct marketing), yaitu suatu bentuk penjualan perorangan secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi pembelian konsumen.

Promosi penjualan yang dilakukan oleh penjual dapat dikelompokkan berdasar tujuan yang ingin dicapai. Pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Customer promotion, yaitu promosi yang bertujuan untuk mendorong atau merangsang pelanggan untuk membeli.
2. Trade promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk merangsang atau mendorong pedagang grosir, pengecer, eksportir dan importir untuk memperdagangkan barang / jasa dari sponsor.
3. Sales-force promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk memotivasi armada penjualan.
4. Business promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk memperoleh pelanggan baru, mempertahankan kontrak hubungan dengan pelanggan, memperkenalkan produk baru, menjual lebih banyak kepada pelanggan lama dan mendidik pelanggan.
Namun yang jelas apapun jenis kebutuhan yang akan diprogramkan untuk dipengaruhi, tetap pada perencanaan bagaimana agar perusahaan tetap eksis dan berkembang. Apalagi jika perusahaan tersebut mempunyai lini produk lebih dari satu macam.

Ada 3 gagasan utama dalam perencanaan bisnis yang dikemukakan oleh Kotler-AB. Susanto (2000 : 80) ;
1. Bahwa bisnis perusahaan seharusnya seperti ” Portofolio Investment ”, yaitu
perlu diputuskan bisnis mana yang dapat dikembangkan, dipertahankan, dikurangi atau bahkan mungkin dihentikan. Karena tiap bisnis memiliki keuntungan masing-masing dan sumber daya perusahaan harus dikelola sesuai dengan potensi yang menguntungkan.
2. Berorientasi pada potensi keuntungan di masa depan dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan pasar dan posisi serta kesesuaian perusahaan. Tidak cukup dengan mengandalkan penjualan dan keuntungan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya sebagai panduan.
3. Strategi. Perusahaan harus memiliki dan menetapkan rencana kerja untuk mencapai sasaran jangka panjang dengan melihat posisi industri (lihat Identifikasi Pesaing), sasaran, peluang keahlian serta sumber daya perusahaan.
Di samping tiga gagasan utama di atas, perlu pula dilakukan analisa atau pendekatan-pendekatan untuk menanggapi adanya perubahan-perubahan pada kondisi pasar yang bisa berdampak pada faktor biaya, Tjiptono (2000 : 7- 8).
Sehingga dengan melakukan analisa dapat dilakukan antisipasi agar tidak keluar biaya yang tidak terkontrol yang dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan.

tugas kelompok
Nama Kelompok:
- Adik Tri Kustanto ( 34209443 )
- Pandu Wiranegara ( 30208949 )
- Wahyu Stevanus P ( 30209804 )
Kelas 2DD01

Kamis, 31 Maret 2011

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam Pembelian Suatu Produk

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam Pembelian Suatu Produk


Faktor Sosial
a. Group
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).
b. Family Influence
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).
c. Roles and Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

Faktor Personal
a. Economic Situation
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).
b. Lifestyle
Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)
c. Personality and Self Concept
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).
d. Age and Life Cycle Stage
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)
e. Occupation
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).

Faktor Psychological
a. Motivation
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).
b. Perception
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).
c. Learning
Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).
d. Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).

Faktor Cultural
Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).
a. Subculture
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).
b. Social Class
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).

Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
2. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk
3. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu pembelian

Kamis, 03 Maret 2011

Bagaimana Menggunakan Marketing Mix

Marketing mix berarti gabungan dari promosi, produk, jalur distribusi, dan harga yang Anda pilih untuk bisnis Anda. Konsekwensinya, marketing mix stratejik akan membantu jika Anda menghasilkan pendapatan dan penjualan online. Ini adalah pengembangan lebih jauh dari gabungan kegiatan marketing yang digunakan untuk mendapatkan pelanggan. Merupakan serangkaian alat yang digunakan bisnis untuk mengejar sasarannya di target market.
Ini adalah istilah yang sering digunakan dalam menekankan campuran berbagai faktor dalam strategi marketing. Sarana ini digunakan untuk mencapai kelompok konsumen yang dituju serta tujuan organisasi. Secara akademis, ini mengacu sebagai serangkaian alat dimana bisnis sesuai untuk memproduksi respon yang diinginkan dalam target market. Karena itu, ini terdiri dari semuanya yang bisa dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan produk.
Teknik ini sekarang digunakan untuk menjual apapun ke siapapun. Pemasar memiliki empat variable yang digunakan ketika membuat strategi dan menulis rencana. Mungkin Anda pernah mendengan 4 P marketing. Yang meliputi product (produk), price (harga), place (tempat) dan promotion (promosi). Strategi market (4P) tidak hanya dipengaruhi oleh internet; tapi didorong olehnya. Dan strategi ini menjadi semakin berorientasi pada individu. Bisnis yang terlibat dengan pengunjungnya dan secara konstan menemukan cara untuk menarik perhatian pengunjung dan membawa mereka ke site dimana mereka bisa mulai mempertimbangkan untuk membeli. Sebagai tambahan, layanan gratis atau berbiaya rendah meningkatkan alur pengunjung ke website. Untuk membantu marketing mix dan karena pentingnya strategi Anda, saya mencantumkan beberapa item yang bisa Anda gabungkan dan terapkan dalam internet marketing plan:




Text message marketing (pemasaran dengan pesan teks)-- Ini tergolong baru di USA tapi telah secara luas digunakan di Eropa dan Asia lebih dari 5 atau 6 tahun sebagai media iklan yang berbiaya rendah dengan hasil yang instan.
-Penyebaran e-book internet marketing

- viral traffic
- Forum posting
- Press releases
- direct mail
- Media cetak
- Mailing lists
- Undian dan kontes
- Broadcast marketing
- Direct mail
- Slogan dan logo marketing
- Article marketing

Marketing di internet adalah tentang mendapatkan pandagan terhadap bisnis, produk dan jasa Anda. Pemikiran baru mengembangkan kemungkinan ketika ide-ide segar melepaskan potensinya. Dan pada marketer yang menguasai alat mereka juga menguasai kompetisi mereka. Teknik iklan online telah dipengaruhi oleh kemajuan teknologi di industri telekomunikasi. Penjabaran sistem marketing berdasar web otomatis yang membuat pipa penjualan Anda dipenuhi dengan prospek yang berkwalitas dan siap membeli sementara juga mengingat marketing mix Anda.

Sabtu, 01 Januari 2011

tugas kelompok

tugas kelompok
Nama Kelompok:
- Adik Tri Kustanto ( 34209443 )
- Pandu Wiranegara ( 30208949 )
- Wahyu Stevanus P ( 30209804 )
Kelas 2DD01
kelompok kami mendatangi seorang wirausahawan yang bernama Fendi Hastanto,SE beliau pemilik di salah satu bengkel AHASS di Cibinong. Awal mula nya beliau mendirikan bengkel motor kecil-kecilan di daerah cibinong, beliau ingin mengembangkan usaha bengkel motor tersebut dengan cara melihat situasi lokasi tersebut ternyata bengkel berada di dalam gank dan melihat di dalam bengkel tersebut ternyata peralatannya kurang lengkap. Sehingga beliau menjual mobil warisan dari orang tuanya untuk modal mengembangkan bengkel biasa menjadi bengkel resmi Honda atau AHASS. Karena di lihat dari situasi pasar nya peluang sangat baik n strategis untuk mendirikan bengkel resmi Honda AHASS. Beliau mengajukan proposal untuk mendirikan bangkel AHASS dan ternyata proposal tersebut memenuhi syatar dan kelayakan untuk mendirikan bangkel AHASS. Setelah 3 bulan kemudian bengkel tersebut di resmikan dan mendapat izin nomor izin usaha. Pak Fendi Hastanto sebagai wirausahawan yang sukses yaitu perusahaan bengkel motor Ahass ,ia menjadi wirausahawan atas dasar.
- adanya peluang / segmen pasar / kebutuhan
- adanya kemauan
- dipertimbangkan dalam studi kelayakan dan masuk untuk criteria dan mengajukan proposal.
Beliau membuka bengkel AHASS sejak tahun 2008 hingga saat ini. Sebagai wirausahawan yang harus dilakukan untuk kelancaran perusahaan tersebut yaitu dengan cara kita di tuntut jeli melihat situasi pasar ,ulet,tekun dan punya semangat ,tidak mudah menyerah,bekerja keras.
Pahitnya menjadi wirausahawan dalam melawan kesengsaran kita harus tahu bagaimana ia merintis sebelum ia sukses,jerih payanya saakm kita down,jangan menyerah tetapi kembali ke diri kita sendiri jangan berfikir yang jelek,bagusnya kita nelihat diri sendiri sejauh mana kita melangkah dan kita gali. Hubungan antara pimpinan & karyawan adalah mitra kerja jadi kita jangan pernah menyia-nyiakan karyawan,kita harus bersifat sebagai pimpinan karma lebih mengerti situasi karyawan kita sendiri.